Oleh: blhyansos | 14 Juli 2010

Sub Bagian Konservasi

Kegiatan manusia (antropogenik) dalam rangka pemenuhan kebutuhannya, selain memberikan manfaat positif, seperti peningkatan kesejahteraan, tetapi juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Beberapa tahun terakhir ini perdebatan antara manfaat dan dampak negatif dari antropogenik tersebut terus berkembang, hal ini dapat dijadikan dasar dalam mengambil kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.

Dampak negatif kegiatan terhadap lingkungan menyebabkan degradasi kualitas lingkungan dan kerusakan ekologis, bahkan bila dilakukan valuasi kadangkala justru merugikan dari sisi ekonomi. Artinya, pemulihan kerusakan ekologinya lebih mahal daripada manfaat ekonomi yang diperoleh. Hubungan ekologi dan ekonomi serta pengelolaan keduanya merupakan hal yang penting dan mendasar dalam menjaga keseimbangan ekosistem global sehingga sustainable development dapat diwujudkan.

Permasalahan yang sudah dikemukakan sebelumnya tidak dipungkiri merupakan permasalahan yang mengemuka akhir-akhir ini, berdasarkan Perda No. 20 tahun 2008, Bagian Lingkungan Hidup sebagai unit Sekretariat Daerah yang mengelola berbagai permasalahan lingkungan memerlukan banyak data yang kemudian menjadi informasi untuk kembali ditransformasikan menjadi ilmu pengetahuan yang kelak akan mendasari berbagai keputusan yang akan diambil dalam menyikapi masalah-masalah tersebut.

Sejalan dengan upaya-upaya demokrasi, desentraliasi, dan pemberdayaan dalam pembangunan Indonesia, maka koreksi-koreksi mendasar sangat diperlukan dalam melihat dan memahami persoalan lingkungan akhir-akhir ini khususnya di Jawa Barat. Sub Bagian Konservasi sebagai bagian integral dari upaya ini melihat banyak tantangan dan peluang untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi sebuah kebijakan publik, seperti yang diungkapkan Fred Carden (2009):

“As research moves to identify the social environment and institutional structures that underlie successful development and the on-the-ground activities and leadership strategies that move development along, the policymakers should take advantage of the emerging knowledge”

SUB BAGIAN KONSERVASI

Konservasi atau conservation dapat diartikan sebagai suatu usaha pengelolaan yang dilakukan oleh manusia dalam memanfaatkan biosfir sehingga dapat menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya secara berkelanjutan untuk generasi manusia saat ini, serta tetap memelihara potensinya untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi yang akan datang (Johan Iskandar, 2000)

Berdasarkan pengertian tersebut, konservasi mencakup berbagai aspek positif, yaitu perlindungan, pemeliharaan, pemanfaatan secara berkelanjutan, restorasi, dan penguatan lingkungan alam (IUCN, 1980). Hal ini memberikan gambaran bahwa keanekaragaman hayati adalah hal yang menjadi titik tolak perspektif Sub Bagian Konservasi dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Keanekaragaman hayati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan lingkungannya, hal ini mencakup fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada spesies lain termasuk manusia (McAllister, 1998).

Keanekaragaman hayati merepresentasikan fungsi dasar ekosistem yang memberikan berbagai pelayanan jasa lingkungan dan mempengaruhi manusia melalui berbagai faktor (penyediaan barang lingkungan/provisioning, pengaturan alamiah/regulating, pelayanan kultural/cultural services, dan fungsi dasar penopang hidup/supporting services), pengaruhnya bagi manusia, khususnya relasi sosial yang terbentuk diantara manusia, dan dengan lingkungan membentuk sebuah feedback loop yang seringkali menjadi faktor kunci dalam penerapan suatu kebijakan.

Beberapa undang-undang yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Sub Bagian Konservasi,  yaitu:

  1. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
  2. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity;
  3. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Dan Ekosistemnya;
  4. Undang Undang Nomor. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
  5. Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan;
  6. Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.

Undang-undang No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pada pasal 70 ayat 1, 2 dan 3, menjelaskan begitu pentingnya peran manusia untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pesan yang dapat diterjemahkan sebagai kesepakatan antara manusia dan alam dengan melakukan pemanfaatan sumber daya secara etis dan efisien.

Kondisi keanekaragaman hayati secara global saat ini, terus menurun, yang disebabkan oleh berbagai macam kegiatan manusia yang berdampak pada perubahan lingkungan, seperti terlihat pada grafik dibawah ini:

Keanekaragaman hayati terus menurun diakibatkan oleh beberapa faktor seperti, perubahan tata guna lahan, perubahan iklim, invasi spesies-spesies tertentu, eksplorasi berlebihan dan polusi, yang dikendalikan oleh interaksi faktor alam dan manusia yang saling menguatkan.

PROGRAM YANG DILAKUKAN?

Terbentuknya Bagian Lingkungan Hidup, khususnya Sub Bagian Konservasi, dipandang sebagai kesempatan yang membuka banyak peluang untuk lebih fokus dalam menangani permasalahan lingkungan hidup dalam koridor tugas pokok dan fungsi sekretariat daerah sebagai general legal drafter untuk Gubernur.

Sangat diharapkan dengan lebih fokusnya organisasi akan memunculkan berbagai koreksi terhadap pemahaman pengelolaan lingkungan hidup agar lebih bersifat transformative, yakni memunculkan adanya pemahaman-pemahaman dan gagasan-gagasan segar dan inovatif yang menguak sisi-sisi positif dari berbagai permasalahan yang ada dan mencerminkan ide-ide demokrasi, desentralisasi, dan pemberdayaan masyarakat. Secara strategis hal yang dilakukan dalam mengelola fokus masalah tersebut adalah dengan:

  1. Membangun jejaring dan mengembangkan kerjasama: Membangun jejaring kerja dengan berbagai stakeholder untuk menghadapi berbagai permasalahan lingkungan dan berbagai kesempatan dengan melihat batas administratif dan geografis;
  2. Membangun kesadaran dan mendorong partisipasi masyarakat: Mendorong keterlibatan masyarakat dalam implementasi rencana pembangunan melalui edukasi, komunikasi dan membangun kapasitas masyarakat yang diharapkan;
  3. Perencanaan yang Proaktif: Mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi dibidang lingkungan hidup baik lokal, regional maupun internasional dilakukan sebuah model perencanaan yang proaktif; dan
  4. Mengembangkan keterbukaan dan aksesibiltas: Mengakomodasi transparansi dalam perencanaan, pengambilan keputusan dan implementasi program-program.

GLOSARIUM

Alien species yaitu suatu spesies yang diintroduksi diluar distribusi normalnya.

Adaptasi, sebuah perubahan dalam ekosistem atau masyarakat yang mengharuskan terjadinya penyesuaian dengan perubahan (kondisi yang berubah) lingkungannya.

Biodiversitas/Keanekaragaman Hayati istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan lingkungannya, hal ini mencakup fungsi-fungsi ekologi atau layanan alam, berupa layanan yang dihasilkan oleh satu spesies dan/atau ekosistem (ruang hidup) yang memberi manfaat kepada spesies lain termasuk manusia.

Ecosystem management, adalah upaya pengelolaan sumber daya alam dengan tujuan untuk mempertahankan keberlanjutan ekosistem untuk kebutuhan manusia dan keperluan ekologis dimasa yang akan datang.

Ecosystem services adalah manfaat yang didapat manusia dari ekosistem, termasuk didalamnya makanan dan air, siklus nutrien yang menopang kondisi kehidupan dalam tanah.

Ekosistem adalah sebuah unit ekologis yang terdiri dari sistem interaksi kompleks antara organisme dengan lingkungan yang mereka tinggali.

Desertifikasi, adalah degradasi yang terus menerus ekosistem darat yang disebabkan oleh berbagai hal termasuk perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Habitat change, perubahan kondisi lingkungan dimana organisme tertentu hidup. Perubahan ini dapat muncul secara alamiah (kebakaran, longsor, gempa bumi dan lain-lain) namun umumnya perubahan habitat disebabkan oleh aktivitas manusia dalam mengelola alam secara fisik (tata guna lahan).

Invasive alien species adalah alien species yang berkembang biak dan menyebar hingga merubah ekosistem atau habitat yang ada.

Sustainability, terpenuhinya kebutuhan pada masa sekarang tanpa mengorbankan kesempatan generasi yang akan datang untuk terpenuhinya kebutuhan mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: